Geliat Islam di The Harbour City



Oleh: Dr. Gun Gun Heryanto

Mentari bersinar cerah menyinari Kota Sydney di fase transisi menuju musim panas yang biasanya bergulir antara Desember hingga Februari. Suhu udara kisaran 20 hingga 26 derajat celcius memberi kenyamanan bagi penduduk kota maupun turis untuk duduk-duduk santai di ruang publik terlebih di lokasi-lokasi wisata seperti sekitaran Opera House, Harbour Bridge dan Darling Harbour.

Sydney, kota metropolitan terbesar di Australia merupakan jantung kota negara bagian New South Wales kerap dijuluki juga sebagai "the Harbour City" (Kota Dermaga), selain juga dijuluki "the City of Villages" (Kota Desa-Desa) dan "the Emerald City" (Kota Zamrud) dengan luas wilayah sekitar 1.200 km persegi.

Saat tiba di Sydney akhir Oktober lalu, terlihat nyata kota ini memiliki wajah multikultural. Beragam etnis, Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Eropa serta penduduk Australia sendiri berbaur, hilir mudik, mengikuti ritme aktivitas masing-masing. Jika membaca sejarahnya, Sydney yang terletak di teluk Tasman, didirikan tahun 1788 oleh Arthur Phillip, komodor First Fleet di Sydney Cove. Wajah multikultural ini pula yang menarik minat penulis untuk menelusuri rekam jejak bauran sosial terutama eksistensi umat Islam di tengah dinamika masyarakat Australia.

Beruntung, penulis mendapat kehormatan untuk menjadi Visiting Researcher di University of Western Sydney melalui program Mora’s Fellow (Ministri of Relegious Affair) yang dibiayai Kementrian Agama RI untuk menggali khazanah intelektual di bidang metodologi riset sekaligus menjadi wahana pemahaman lintas budaya (cross culture understanding) antara ilmuan Indonesia dengan Australia. Program ini pula yang mengenalkan kota tepian bernama Bankstown, kota kecil tempat University of Western Sydney berada. Memang, UWS memiliki beberapa kampus yang terletak di banyak tempat, tapi yang menarik rasa ingin tahu justeru yang terletak di kota sepi senyap, Bankstown ini.

Tiba di kampus berslogan Bringing Knowladge to Life ini, tujuan utama penulis langsung tertuju ke pusat penelitian agama dan masyarakat (The Religion and Society Research Center) milik UWS yang kini dipimpin oleh Prof. Adam Possamai, sosok ilmuan penuh kehangatan. Adam membuat welcome reception yang juga dihadiri oleh, Prof. Kevin Dunn, Dean of School of Social Science and Psychology UWS. Sebuah perjamuan pembuka yang tak hanya menghidangkan makanan dan minuman penanda persahabatan, tetapi juga dialog akademik yang membuat kerasan ngobrol berpanjang lebar. Dialog lintas budaya ibarat oase di tengah kegersangan topik-topik yang menjadi menu harian program-program diolog beragam media massa di Indonesia yang rutin penulis isi.

The Religion and Society Research merupakan perluasan dari Center for the Study of Contemporary Muslim Society (CSCMS) yang didirikan tahun 2009 di UWS di bawah payung the National Center of Excellence for Islamic Studies. Dengan demikian, nampak nyata bahwa Islam dan komunitas masyarakat muslim telah menjadi basis kajian yang diperhitungkan dan menarik minat di UWS dan di banyak kampus-kampus lain di Australia. Melihat seantero lingkungan kampus UWS, tak sulit menemukan mahasiswa berjilbab, bahkan menurut teman penulis yang sedang ambil program doktor, di UWS ini banyak sekali mahasiswa muslim yang berasal dari Iran, Libanon, Pakistan, Afghanistan, Indonesia dan lain-lain kuliah di UWS kampus Bankstown.

Hari demi hari di UWS diisi penulis dengan aktivitas padat, berinteraksi dengan sejumlah ilmuan UWS dan kampus-kampus lain. Diskusi, public lecture, simposium, focus group discussion (FGD), micro teaching, presentasi, konferensi dan sejumlah aktivitas akademik lainnya menjadi menu harian dari Senin-Jum’at.

Sejumlah topik soal Islam dan masyarakat modern didiskusikan dengan renyah dan penuh persahabatan. Kajian berbasis riset sangat menarik soal geliat Islam di Australia juga dipaparkan Prof Riaz Hassan (Emeritus Professor of Sociology di Flinders University) yang membahas tuntas soal Socio-economic Status of Australian Muslims: Implications for Citizenship and Social Integration pada 7 November.

Aktivitas Muslim

Di tengah-tengah jadwal terstruktur di UWS, penulis berkesempatan keliling ke sejumlah kota di Sydey, untuk melihat lebih dekat geliat umat Islam di sini. Warga muslim yang ada di Sydney umumnya tinggal berdekatan dengan kawasan masjid tempat mereka beribadah. Misalnya kita akan menemukan warga muslim Turki dan Somalia tinggal di wilayah Auburn. Di wilayah ini, terdapat salah satu masjid terbesar yang ada di Sydney yang dibangun oleh komunitas muslim Turki.

Ada juga muslim Libanon yang tinggal di area Lakemba dan Bankstown. Muslim Libanon yang tinggal di Bankstown hanya perlu berkendara selama 10 menit untuk sampai ke Lakemba, Greenacre, Punchbowl, dan Chullora. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah pinggiran yang berdekatan dengan Lakemba.

Kita juga akan menemukan warga muslim lain yang tinggal di daerah Hurstville dimana terdapat sebuah masjid kecil untuk tempat beribadah para warga muslim yang tinggal di daerah tersebut.

Saat menelusuri sejumlah komunitas umat Islam, penulis menemukan sejumlah mesjid dan musola sekitar Sydney, antara lain: Ashfield Musallah (Ashfield), Auburn Gallipoli Mosque, Auburn Musallah (Auburn), Masjid-e-Abu Bakr, Bankstown Musalla, (Bankstown), Belmore Mosque (Belmore).

Sekolah Privat

Dalam konteks mengenalkan Islam, di Chullora dan Greenace terdapat sekolah privat untuk pelajar dari warga muslim. Nama sekolahnya Malek Fahd School. Tapi, meskipun sekolah private warga muslim, siswa non muslim yang ingin belajar di sekolah ini juga diperbolehkan.

Tujuannya, tentu saja untuk membangun semangat pembauran warga muslim dan non muslim. Selain Malek Fahd School, ada juga Al Noori School yang mengajarkan ilmu Islam sebagai materi utamanya. Sekolah ini juga terletak di wilayah Grenacre.

Dari perjalanan ini, nampak nyata benang merahnya. Pertama, yakni Islam dan masyarakat muslim menjadi kajian yang menarik dan intensif dikaji oleh para ilmuan sosial di Australia dan juga ilmuan dari belahan dunia lainnya. Kedua ada good will dan political will untuk senantiasa membangun dan mengembangkan toleransi di antara pemeluk Islam dan pemeluk agama lain di Australia. Proses CCU (Cross Culture Understanding) berupaya diimplementasikan dalam kehidupan sosial multietnis dan agama.

Banyak masyarakat Muslim dari mancanegara yang datang dan menetap di Australia, khususnya Sydney. Data PBB menyebutkan (1989-2012), pertumbuhan Muslim paling cepat terjadi di Australia dan Pasifik (257.01 persen) kemudian berturut-turut diikuti oleh Eropa, AS, Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Semoga tak hanya kuantitas, tetapi Islam di negara ini juga mampu menjadi saksi peradaban. Amin. ***

Catatan, tulisan ini telah dipublikasikan di Rubrik Islam Digest, Harian Umum Republika, Ahad, 30 November 2014.

 


Komentar