METODE PEMBELAJARAN BACA TULIS AL QUR’AN DALAM PERSPEKTIF MULTIPLE INTELLIGENCES OLEH : Dadang Ah



ANALISIS

METODE PEMBELAJARAN BACA TULIS AL QUR’AN DALAM PERSPEKTIF MULTIPLE INTELLIGENCES

OLEH : Dadang Ahmad Sujatnika

 

 

 

A.        Pendahuluan

Al Qur’an merupakan kitabullah yang diturunkan oleh Allah swt melalui Nabi Muhammad saw ke dunia yang harus diyakini oleh setiap mukmin. Beriman kepada kitab Allah swt adalah salah satu rukun iman yang ketiga. Salah satu wujud beriman kepada Kitabullah (Al Qur’an) dapat dilakukan dengan cara mempelajarinya dan mengajarkannya kepada orang lain. hal ini didasari bahwa Al qur’an merupakan sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan.

Keistimewaan Al qur’an tersebut memunculkan usaha kaum muslimin untuk mempelajari kandungannya dari beberapa aspek keilmuan yang berkembang dalam khazanah intelektualitas muslim. Karenanya, muncul berbagai lembaga/program pendidikan al Qur’an dari tingkat pemula sampai tingkat lanjutan, diantaranya dalam lingkungan masyarakat Muslim Indonesia ialah Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA). Sebuah institusi non formal yang mengelola pembelajaran al Qur’an untuk anak-anak usia pra sekolah hingga sekolah dasar. (Amien, 1999) bahkan akhir-akhir ini banyak lembaga pendidikan umum, baik tingkat SD, SMP maupun SMA yang menyelenggarakan bimbingan baca tulis al Qur’an bagi siswa siswinya. Tentu, fenomena ini sangat menggembirakan bagi pengembangan pendidikan Islam.

Dalam memepelajari al Qur’an tergantung pada tingkatan masing-masing. Bagi anak usia dini harus dimulai dari bagaimana cara membaca dan menulis huruf al Qur’an. Keberhasilan belajar pada tingkatan ini, tentu akan dapat menentukan keberhasilan belajar pada tingkatan berikutnya, seperti sebagaimana memahami kandungan ayat-ayat al Qur’an, tafsir al Qur’an, sebagaimana yang dikatakan Imam al Ghazali bahwa “Hendaklah seorang murid tidak mempelajari sebuah cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu sebelumnya”.

Untuk dapat mencapai tahapan keberhasilan sesuai dengan apayang disampaiakan diatas, maka diperlukan keseriusan yang sangat dan kepedulian yang ekstra dari setiap pendidik adalah tugas mencari metode terbaik untuk mengajarkan al Qur’an (kepada mereka) merupakan salah satu pokok dalam ajaran Islam. Tujuannya adalah agar mereka tumbuh sesuai dengan fitrahnya dan hati merekapun bisa dikuasai cahaya hikmah, sebelum dikuasai hawa nafsu dengan berbagai nodanya yang terbentuk melalui kemaksiatan dan kesesatan. (Sugiyanto, 2009:1)

Terkait hal ini, ada sebuah illustrasi menarik tentang praktik pembelajaran yang diselenggarakan dengan pendekatan atau paradigma multiple intelligences. Ada air dalam cangkir besar yang dituangkan dalam 10 botol. Dan, bentuk botolnya pun berbeda-beda. Tidak sama antara satu dengan yang lain, tetapi air yang dituangkan ternyata dapat memebuhibotol yang bermacam-macam itu, karena salah satu sifat air adalah cair, yakni dapat menyesuaikan dengan bentuk yang dialiri. Intinya, ketika air dalam cangkir, maka bentuk air adalah seperti cangkir, namun ketika dituangkan dalam 10 botol yang berbeda, maka diperoleh 10 model bentuk air yang berbeda-beda.

Nah, bagaimana dalam proses pembelajaran? Tantangan bagi seorang guru adalah bagaimana guru dapat membuat “bentuk” ilmu atau informasi yang mau ditransfer ke siswa sesuai dengan masing-masing individu siswa. Jika bentuk yang ditransfer sudah sesuai dengan bentuk masing-masing siswa maka secara otomatis akan dapat masuk ke dalam masing-masing siswa. Dengan kata lain, gaya mengajar guru harus menyesuaikan dengan gaya belajar siswa, bukan sebaliknya, gaya belajar siswa harus menyesuaikan dengan gaya mengajar guru. Memang, dengan pembelajaran berbasis multiple intelligences ini guru akan dibuat dalam posisi yang sebenarnya tidak mudah, artinya tugas seorang guru menjadi berat. Dan, memang inilah keharusan yang menurut peneliti merupakan suatu keniscayaan, jika kita ingin para siswa nantinya akan menjadi manusia pebelajar sejati.

Gardner (1983) menyatakan terdapat delapan kecerdasan pada manusia, yaitu kecerdasan linguitik, kecerdasan matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan musical, kecerdasan kinestetik, kecerdasa interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis. Tugas orang tua dan pendidiklah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan factor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.

Pendidikan yang memfokuskan pembelajarannya pada kemampuan baca tulis al Qur’an sudah lama dilaksanakan di Indonesia, yakni sejak masuknya Islam ke kawasan Nusantara. Metode yang digunakan dalam pengajarannya pada masa-masa pertama, tidaklah diketahui secara pasti. Kalau yang ada yang menyatakan bahwa metode yang digunakan adalah metode yang sekarang ini dipakai di daerah-daerah pedesaan itupun kebenarannya masih perlu dipertanyakan. (Khusairi, 1994:58).

Dalam perkembangannya, di Indonesia muncul beberapa lembaga pendidikan non formal yang peduli terhadap kemampuan baca tulis al Qur’an terutama yang masih berusia dini. Lembaga pendidikan ini lebih sering kenal dengan sebutan Taman Pendidikan Al Qur’an (disingkat TPQ atau TPA).

TPQ merupakan penunjang pendidikan agama Islam pada lembaga-lembaga pendidikan formal (tingkat SD/MI), karenanya diselenggarakan pada siang/sore hari di luar jam sekolah. Bagi lingkungan masyarakat yang memiliki Madrasah diniyah pada jam-jam tersebut, TPA dapat juga dijadikan sebagai kegiatan Pra Madrasah Diniyah.

Uniknya, pola pembelajaran Qur’an yang dikembangkan di TPA tidak seragam. Dilihat dari system dan manajemen komunitas belajar, setiap TPA memiliki karakter program tersendiri. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan kajian lebih lanjut dalam penelitian ini, yakni untuk mengeksplorasi lebih jauh metode pembelajaran al Qur’an di TPA yang banyak digunakan di pelbagai lembaga dengan menggunakan paradigm multiple intelligences.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa kemampuan tulis baca al Qur’an menempati sisi yang strategis dalam pendidikan. Namun demikian, perlu kiranya dilakukan kajian mendalam terkait dengan metode-metode tersebut dalam perspektif kemampuan dan kecerdasan anak. apakah metode tersebut sudah sesuai dengan perkembangan kemampuan anak? Bagaimanakah implementasi metode pembelajaran BTA melalui perspektif multiple intelligences? Bagaimana analisis penggunaan metode-metode pembelajarannya? dan sebagainya.

 

B.         Pembelajaran Baca Tulis Al Qur’an (BTA)

Pembelajaran al Qur’an merupakan kegiatan yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan professional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum, atau dengan kata lain, pembelajaran adalah suatu aktifitas yang dengan sengaja memodifakasi berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya tujuan kurikulum. (Komari, 2008)

Metode pembelajaran baca tulis al Qur’an (disingkat BTA) menempati posisi yang strategis dalam ajaran Islam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqash, dari ayahnya, dia berkata: “Rasulullah saw bersabda: orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya”.

Sa’ad Riyad dalam Sugiyanto (2009) mengatakan bahwa berpijak pada hadits ini, tentu mengajarkan al Qur’an dapat memberikan sifat-sifat yang terpuji pada manusia, apalagi jika pengajaran dan pendidikan ini dikhususkan kepada keluarga. Pada saat yang sama, jika pengajaran al Qur’an ini terlaksana dengan baik, maka anakanak pun akan dapat mencintai al Qur’an. Dengan demikian, pengajaran yang sesuai dengan dasar-dasar yang benar akan membuat anak-anak mencintai al Qur’an sekaligus memperkuat ingatan dan pemahaman mereka.

Dunia pendidikan mengakui bahwa suatu metode pembelajaran senantiasa memiliki kekuatan dan kelemahan. Keberhasilan suatu metode pembelajaran sangat ditentukan oleh beberapa hal, yaitu: 1) kemampuan guru, 2) siswa, 3) materi pembelajaran, 4) lingkungan, 5) media/alat pembelajaran dan 6) tujuan pemelajaran yang ingin dicapai. Dalam pembelajaran BTA harus menggunakan metode. Dengan menggunakan metode yang tepat, akan menjamin tercapainya tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dan merata bagi siswa. (Komari, 2008)

Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas.

Adapun pengertian membaca menurut I Gusti Ngurah Oka (1983) adalah proses pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak dari bacaan itu. 

Jadi secara keseluruhan yang dimaksud dengan pembelajaran membaca al Qur’an adalah sebuah proses yang menghasilkan perubahan-perubahan kemampuan melafalkan kata-kata, huruf atau abjad al Qur’an yang diawali dari huruf a (ا) sampai dengan ya’ (ي) yang dilihatnya dengan mengerahkan beberap tindakan melalui pengertian dan mengingat-ingat. (Faizah, 2006)

 

  1. Metode-Metode Baca Tulis Al Qur’an (BTA)

Metode-metode pembelajaran baca tulis al Qur’an (BTA) telah banyak berkembang      di Indonesia        sejak    lama.

Beberapa metode pembelajaran yang telah dipraktikkan dalam masyarakat adalah metode Baghdadiyah, metode Qira’ati, metode al Barqy, metode Tilawati, metode Iqra’ Terpadu, metode Iqro’ Klasikal, metode Dirosa, metode Taghonna, metode PQOD (Pendidikan Qur’an OrangDewasa) dan lain-lain.

  1. Metode Baghdadiyah

Metode ini disebut juga metode “Eja”, berasal dari Baghdad, masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Tidak tahu dengan pasti siapa penyusunnya. Dan telah seabad lebih berkembang secara merata di tanah air.

Secara dedaktik, materi-materinya diurutkan dari yang kongkret ke abstrak, dari yang mudah ke yang sukar, dan dari yang umum sifatnya kepada materi yang rinci (khusus). Secara garis besar, Qaidah Baghdadiyah memerlukan 17 langkah. Tiga puluh huruf hijaiyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolah-olah sejumlah tersebut menjadi tema sentral dengan berbagai variasi. Variasi dari tiap langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak didenger) karena bunyinya bersajak berirama. Indah dilihat karena penulisan huruf yang sama. Mtode ini diajarkan secara klasikal maupun privat.

  1. Metode Qira’ati

Metode baca al Qur’an Qira’ati ditemukan oleh KH. Dahlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari Semarang Jawa Tengah. Metode yang disebarkan sejak awal 1970-an, ini memungkinkan anak-anak mempelajari al Qur’an secara cepat dan mudah.

Kyai Dahlan yang mulai mengajar al Qur’an sejak tahun 1963, merasa metode baca al Qur’an yang ada belum memadai, misalnya metode Qaidah Baghdadiyah dari Baghdad Irak, yang dianggap metode tertua, terlalu mengandalkan hafalan dan tidak mengenalkan car abaca tartil (jelas dan tepat), Kyai Dahlan kemudian menerbitkan enam jilid buku pelajaran membaca al Qur’an untuk TK al Qur’an untuk anak usia 4-6 tahun pada 1 Juli 1986. Usai merampungkan penyusunannya, KH. Dahlan berwasiat supaya tidak sembarang orang mengajarkan metode Qira’ati, tapi semua orang boleh diajar dengan metode Qira’ati. Dalam perkembangannya metode Qira’ati lian diperluas. Kini ada Qira’ati anak usia 4-6 tahun, untuk 6-12 tahun dan untuk mahasiswa.

  1. Metode al Barqy

Metode al Barqy dapat dinilai sebagai metode cepat membaca al Qur’an yang paling awal. Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Muhajir Sulton pada tahun 1965. Awalnya, al Barqy diperuntukkan bagi siswa SD Islam al Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar dengan metode ini lebih cepat mampu membaca al Qur’an. Muhajir lantas membukukan metodenya pada tahun 1978, dengan judul “Cara Cepat Mempelajari Bacaan al Qur’an al Barqy”.

Muhajir Sulthon Manajemen (MSM) merupakan lembaga yang didirikan untuk membantu program pemerintah dalam hal memberantas but abaca tulis al Qur’an dan membaca huruf latin. Berpusat di Surabaya dan telah mempunyai cabang di beberapa kota besar di Indonesia, Singapura dan Malaysia. Metode ini disebut ANTI LUPA karena mempunyai struktur yang apabila pada saat siswa lupa dengan hurufhuruf atau suku kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan mudah dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru. Penyebutan ANTI LUPA itu adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh DEPAG RI. Metode diperuntukkan bagi siapa saja mulai anak-anak hingga orang dewasa. Metode ini mempunyai keunggulan anak tidak akan lupa sehingga secara langsung dapat mempermudah dan mempercepat anak  belajar membaca.

Waktu untuk belajar membaca al Qur’an menjadi semakin singkat.

 

  1. Tinjauan tentang Multiple Intelligences

Pada tahun 1904, menteri pendidikan Prancis di Paris meminta psikolog Prancis, Alfred Binet, dan sekelompok psikolog mengembangkan suatu alat untuk menentukan siswa SD mana yang “berisiko” mengalami kegagalan, agar mereka diberi perhatian khusus. Jerih payah mereka membuahkan tes kecerdasan yang pertama. Setelah sampai ke Amerika, beberapa tahun kemudian tes kecerdasan ini segera tersebar luas. Masyarakat menjadi beranggapan ada hal yang disebut “kecerdasan”, dan bahwa kecerdasan itu dapat diukur secara objektif dan dapat dinyatakan dalam satu angka atau nilai “IQ”. (Armatrong,1991: 1) 

Hampir 80 tahun setelah dikembangkannya tes kecerdasan  yang pertama tersebut, Gardner mempersoalkan pen gertian kecerdasan yang diyakini masysarakat itu. Dia mengatakan bahwa penafsiran kecerdasan di kebudayaan kita terlalu sempit (Armstrong, 1991:1).  Gardner mengusulkan dalam bukunya Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, bahwa kecerdasan memiliki tujuh komponen, meliputi kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan logis matematis, kecerdasan visual spasial, kecerdasan ritmik-musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal. (Gardner, 1983). Kemudian sesuai dengan perkembangan penelitian yang dilakukannya, Gardner lalu memasukkan kecerdasan kedelapan dalam multiple intelligences, yakni kecerdasan naturalis (Gunawan, 2007:106).

Selanjutnya Murtanto (2002:250) dalam bukunya “sekolah para juara” yang merupakan terjemahan dari buku “Multiple Intelligences in The Classroom” yang ditulis Thomas Armstrong (2000) menjelaskan bahwa pada tahun 1999, Gardner menulis tentang “kemungkinan” adanya kecerdasan yang ke Sembilan, yakni kecerdasan eksistensial. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa Gardner mendefinisikan kecerdasan eksistensial sebagai “minat pada masalah-masalah pokok kehidupan”. Gardner mempertimbangkan untuk memasukkan kecerdasan ini ke dalam teori multiple intelligences, karena tampaknya kecerdasan ini memenuhi sebagian besar criteria yang dia tetapkan untuk dapat disebut kecerdasan. Sambil berseloroh, dia menyatakan bahwa sekarang dia memiliki 8,5 kecerdasan.

Teori multiple intelligences bertujuan untuk mentransformasikan sekolah agar kelak sekolah dapat mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam kecerdasan yang dimiliki siswa. Ada 8 macam kecerdasan yang digagas oleh Gardner (1993), yaitu:

  1. Kecerdasan Linguistik

Kemampuan untuk menggunakan bahasa untuyk mendeskripsikan kejadian, membangun kepercayaan dan kedekatan, mengembangkan argument logika dan retorika, atau mengungkapkan ekspresi dan metafora. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan linguistic adalah wartawan dan reporter, tenaga penjual, penyair, opywriter, penulis dan pengacara.

  1. Kecerdasan Matematis

Kemampuan menggunakan angka-angka untuk menghitung dan mendeskripsikan sesuatu, menggunakan konsep matematis, menganalisa berbagai permasalahan secara logis, menerapkan matematika pada kehidupan sehari-hari, peka terhadap pola tertentu, serta menelah berbagai permasalahan secara ilmiah. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan matematis adalah akuntan, ahli statistic, insinyur, penemu, pedagang dan pembuat program computer.

  1. Kecerdasan Musikal

Kemampuan untuk mengerti dan mengembangkan teknik musical, merespon terhadap musik, menggunakan music sebagai sarana komunikasi, menginterpretasikan berbagai bentuk dan ide musical, dan menciptkan pertunjukan dan komposisi yang ekspresif. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan musical adalah guru music, pembuat instrument/alat music, pemain band, kritikus music, kolektor music, pencipta lagu dan penyanyi.

  1. Kecerdasan Spasial

Kemampuan untuk mengenali pola ruang secara akurat, menginterpretasikan ide grafis dan spasial serta menerjenahkan pola ruang secara tepat. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan spasial adalah fotografer, decorator ruang, perancang busana, arsitek dan pembuat film.

  1. Kecerdasan Kinestetik

Kemampuan untuk menggunakan seluruh atau sebagian dari tubuh untuk melakukan sesuatu, membangun kedekatan untuk mengkonsolidasi dan meyakinkan serta mendukung orang lain, dan menggunkannya untuk menciptkan bentuk ekspresi baru. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan ini adalah mekanik, pelatih, pengrajin, atlet, actor, penari atau koreografi.

  1. Kecerdasan Interpersonal

Kemampuan untuk mengorganisasikan orang dan mengkomunikasikan secara jelas apa yang perlu dilakukan, berempati kepada orang lain, membedakan dan menginterpretasikan berbagai jenis komunikasi dengan orang lain, dan memahami intensi, hasrat, dan motivasi orang lain. beberapa jenis pekerjaan yang memerlukan kecerdasan ini adalah manajer, politisi, pekerja social, pemimpin, psikolog, guru atau konsultan.

  1. Kecerdasan Intrapersonal

Kemampuan untuk menilai kekuatan- kelemahan, bakat, ketertarikan diri sendiri serta menggunakannya untuk menentukan tujuan, menyusun dan mengembangkan konsep dan teori berdasarkan pemeriksaan ke dalam diri sendiri, memahami perasaan, intuisi, temperamen, dan menggunakannya untuk mengekspresikan pandangan pribadi. Beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan kecerdasan ini adalah perencana, pemuka agama dan filosof.

  1. Kecerdasan Naturalis

Kemampuan untuk mengenali, mengelompokkan dan menggambarkan berbagai macam keistimewaan yang ada di lingkungannya. Beberapa pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan ini adalah ahli biologi dan ahli konservasi lingkungan.

Multiple intelligences pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). celakanya, pola pemikiran tradisional dalam pendidikan acapkali lebih menekankan pada kemampuan logika-matematik dan bahasa. Padahal setiap orang memiliki cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan  masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain (Susanto, 2005:35)

Sementara Jasmine (2007:12) berpendapat bahwa multiple intelligences merupakan validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Pemakaiannya dalam pendidikan sangat bergantung pada pengenalan, pengakuan dan penghargaan terhadap setiap atau berbagai cara belajar siswa, disamping pengenalan, pengakuan dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masingmasing siswa.

Musfiroh (2008:38) menjelaskan bahwa esensi teori multiple intelligences Gardner adalah menghargai keunikan setiap individu, berbagai variasi cara belajar, mewujudkan sejumlah model untuk menilai mereka, dan cara yang hamper tak terbatas untuk mengaktualisasikan diri di dunia ini. Sesungguhnya multiple intelligences hadir dalam diri setiap individu, tetapi masing-masing individu akan memiliki satu atau lebih multiple intelligences yang memiliki tingkat multiple intelligences teratas.

Namun, dalam praktik pembelajaran di sekolah sudah selayaknya seorang guru memiliki data tentang tingkat kecenderungan multiple intelligences setiap siswa. Dengan memperhatikan perbedaan kecenderungan multiple intelligences masingmasing siswa, maka sangat dimungkinkan akan berpengaruh terhadap perbedaan gaya belajar siswa.

 

E.         Analisis Metode Qiroati dalam Perspektif Multiple Intelligences

Metode bacaan al Qur’an Qiraati ditemukan oleh KH. Dahlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari Semarang Jawa Tengah. Metode ini memungkinkan anak-anak mempelajari al Qur’an secara mudah dan cepat. Dalam pembelajaran metode Qira’ati ini memiliki tujuan sebagai berikut : 

  1. Menjaga dan memelihara kehormatan dan kesucian al Qur’an
  2. Menyebarkan ilmu bacaan al Qur’an yang benar dengan cara yang benar
  3. Mengingatkan      para    guru    al         Qur’an            agar     berhati-hati     dalam mengajarkannya
  4. Meningkatkan kualitas pendidikan atau pengajaran al Qur’an.

Adapun aturan yang digunakan dalam pembelajaran dengan menggunakan metode Qira’ati adalah sebagai berikut:

  1. Membaca langung tanpa mengeja
  2. Praktik bacaan  bertajwid secara mudah dan prektis
  3. Susunan materi bertahap dan berkesinambungan
  4. Materi disusun dengan system modul/paket
  5. Banyak latihan membaca
  6. Belajar sesuai kesiapan dan kemampuan murid
  7. Evaluasi setiap pertemuan
  8. Belajar dan mengajar secara “talaqqi-musyafahah”; dan
  9. Guru pengajarnya harus ditashih (ijazah billisan)

Untuk mempraktikkan aturan tersebut, maka ada beberapa prinsip dasar metode Qira’ati yang harus difahami bagi guru dan murid. Prinsip bagi guru adalah DAKTUN  (tidak boleh menintun) dan TIWASGAS (Teliti-Waspada dan Tegas), sedangkan prinsip bagi murid adalah CBSA+M (Cara Belajar Siswa Aktif+Mandiri) dan LCTB (Lancar, Cepat, Tepat dan Benar).

Secara lebih jelas, model pembelajaran metode Qira’ati jika dikaji dalam perspektif multiple intelligences, maka dapat dirumuskan dalam table berikut:

 

Tabel 1. Unsur Multiple Intelligences dalam Metode Qira’ati

No

Unsur kegiatan

Bentuk Kegiatan

Kecerdasan

1

Sistem Pembelajaran

Klasikal dan Privat

Interpersonal

Intrapersonal

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

Metode Pembelajaran

Guru menjelaskan dengan member contoh materi pokok bahasan, selanjutnya siswa membaca sendiri

(CBSA)

Linguistik

Intrapersonal

Siswa membaca tanpa mengeja

Linguistik, matematis

Sejak awal belajar,

Linguistik,

 

 

siswa ditekankan untuk membaca dengan tepat dan cepat

matematis

Tidak sembarang orang boleh mengajarkan metode Qira’ati. Tapi semua orang boleh diajar

dengan metode

Qira’ati

Interpersonal, intrapersonal

 

Dalam metode Qira’ati, system pembelajarannya menggunakan pendekatan klasikal dan privat. Hal ini berarti dapat memicu perkembangan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal pada anak. Anak dengan kecerdasan interpersonal yang menonjol memiliki interaksi yang baik dengan guru dan sesame temannya, pintar menjalin hubungan social, dan mampu mengetahui dan menggunakan berbagai ragam cara saat berinteraksi ketika proses pembelajaran berlangsung. Mereka juga merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku, dan harapan teman yang lain, serta mampu bekerjasama dengan teman lain. Hal ini dapat dirangsang melalui metode pembelajaran sistem klasikal.

Sedangkan, anak dengan kecerdasan intrapersonal yang menonjol akan memiliki kepekaan perasaan dalam situasi pembelajaran yang tengah berlangsung, memahami diri sendiri, dan menyukai belajar secara mandiri. Ia juga mengetahui apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan selama proses pembelajaran. Mereka mengetahui kepada siapa harus mengajukan pertanyaan atau meminta bantuan saat memerlukan. Hal ini dapat dirangsang dengan menggunakan pendekatan pembelajaran secara individual atau privat.

Adapun terkait dang metode pembelajarannya, dalam metode Qira’ati ini guru menjelaskan dengan member contoh materi pokok bahasan, selanjutnya membaca sendiri (CBSA), siswaa membaca tanpa mengeja. Sejak awal belajar, siswa ditekankan untuk membaca dengan tepat dan cepat. Hal ini berarti dapat memberikan rangsangan bagi pertumbuhan kecerdasan linguistic, matematis dan intrapersonal masing-masing siswa. Salah satu dari kecerdasan linguistic adalah pandai berbicara atau membaca huruf-huruf al Qur’an. Dan, dalam metode qira’ati ini, siswa dianjurkan membaca al qur’an tanpa mengeja dengan cepat dan tepat yang berarti dapat meningkatkanpengoptimalan kecerdasan matematis siswa.

Metode Qira’ati menggunakan pendekatan CBSA yang berarti mendorong kepada siswa untuk meningkatkan kecerdasan intrapersonalnya. Karena, lebih banyak disibukkan untuk aktif secara individu ketika proses pembelajaran berlangsung.

 

F.         Analisis Metode Baghdadiyah dalam Perspektif Multiple Intelligences

Sebagaimana dijelaskan pada kajian teori bahwa metode Baghdadiyah disebut juga dengan metode “Eja”, berasal dari Baghdad pada masa pemerintahan khalifah Abbasiyah. Secara umum metode ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, diantara kelebihannya adalah:

  1. Bahan-materi pelajaran disusun secara sekuensif
  2. Tiga puluh abjad hamper selalu ditampilkan pada setiap langkah secara utuh sebagai tema sentral
  3. Pola bunyi dan susunan huruf wazan disusun secara rapi
  4. Keterampilan mengeja yang dikembangkan merupakan daya tarik tersendiri
  5. Materi tajwid secara mendasar terintegrasi dalam setiap langkah Sedangkan diantara kekurangannya adalah:
  1. Qaidah Baghdadiyah yang asli sulit diketahui, karena sudah mengalami beberapa modifikasi kecil
  2. Penyajian materi terkesan menjemukan
  3. Penanpilan beberapa huruf yang mirip dapat menyulitkan pengalaman belajar siswa
  4. Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca al Qur’an

Dalam situs (http//kamyabihomeschool.org) disebutkan bahwa membaca al Qur’an dengan metode Baghdadiyah sesungguhnya adalah metode yang digunakan pada tempo dulu yang telah teruji keberkahannya dari masa ke masa. Tak terhitung banyaknya alim, ulama’, hafidz al Qur’an, maulana, mufti, syaikhul hadits dan lainlain di seluruh dunia telah belajar melalui metode ini pada masa kanak-kanak. Para “guru ngaji” di berbagai belahan dunia telah menjadikannya sebagai pegangan utama dalam membimbing anak muridnya. Belajar pada guru ngaji dari zaman dulu adalah menggunakan Qaidah Baghdadiyah. Terdapat rahasia keberkahan dan khasiat di dalamnya. Guru menjadi wibawa, murid menjadi santun, hormat kepada orang tua, saying kepada adik. Harapan kami kiranya hubungan antara guru dan murid dapat kembali menjadi erat dengan keberkahan metode ini.

Secara lebih jelas, model pembelajaran BTA dengan metode Baghdadiyah jika dikaji dalam perspektif multiple intelegences, maka dapat dirumuskan  sebagai berikut:

Tabel. 2 Unsur Multiple Intelligences dalam Metode Baghdadiyah

No

Unsur Kegiatan

Bentuk Kegiaatan

Kecerdasan

1

Sistem

Pembelajaran

Klasikal dan Privat

Interpersonal, Intrapersonal

2

Metode

Pembelajaran

Materinya diurutkan dari yang kongkret ke abstrak, dari yang mudah ke sukar, dan dari yang umum ke khusus-terinci

 

Matematis

30 huruf hijaiyah selalu ditampilkan secara utuh dalam setiap langkah pembelajaran. Seolah-olah sejumlah tersebut menjadi tema central dengan berbagai variasi

Matematis,

Spasial,

Musikal

Variasi dari tiap langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak didengar), karena bunyinya bersajak berirama.

Musikal

Pola bunyi dan susunan huruf (wazan) disusun secara rapi, dan indah dilihat karena penulisan huruf yang sama.

Spasial

Keterampilan mengeja yang

dikembangkan memiliki daya tarik tersendiri

Matematis, Linguistik

Materi tajwid secara mendasar terintegrasi dalam setiap langkah.

Matematis

 

Sistem atau bentuk pembelajaran yang diterapkan dalam metode Baghdadiyah ini memiliki kesamaan dengan metode Qira’ati, yakni menggunakan pendekatan klasikal dan privat. Dengan pendekatan klasikal, maka bagi siswa yang memilki kecenderungan kecerdasan interpersonal yang paling tinggi akan memiliki semangat dan gairah yang tinggi pula ketika proses pembelajaran berlangsung. Bagi siswa yang memiliki tipe seperti ini, akan mudah berinteraksi dengan guru yang mengajar sekaligus antar sesame siswa. Begitu pula bagi siswa yang menonjol di bidang kecerdasan intrapersonal, juga tidak akan memiliki kesulitan yang berarti ketika dalam proses pembelajaran. Hal ini karena di dalam Baghdadiyah ini diterapkan pendekatan privat. Artinya seorang guru langsung membimbing siswa satu persatu. Dengan demikian, seorang guru dituntut untuk dapat memahami kecenderungan kecerdasan masing-masing siswa, sehingga guru tahu siapa saja yang harus didekati dengan menggunakan system privat dan siapa saja yang harus menggunakan model klasikal.

Sedangkan sistem pembelajaran dalam metode Baghdadiyah ini secara umum memiliki keterkaitan dengan 4 kecerdasan dalam multiple intelligences, yaitu kecerdasan linguistic, matematis, musical, dan spasial. Dalam metode Baghdadiyah untuk materinya diurutkan dari yang kongkret ke abstrak, mudah ke sukar, umum ke khusus. Hal ini akan memudahkan bagi siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan matematis. Selain itu dari 30 huruf hijaiyah yang terdapat dalam al Qur’an selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolah-olah sejumlah tersebut menjadi tema sentral dengan berbagai variasi. Hal ini berarti akan member kemudahan dalam belajar bagi siswa yang kecenderungannya di bidang kecerdasan matematis, linguistic dan spasial.

Bagi siswa yang memiliki kecerdasan linguistic, apabila dalam belajar al Qur’an menggunakan metode Baghdadiyah, maka kemungkinan besar mereka tidak akan mengalami kesulitan, hal ini karena dalam metode ini juga dilengkapi cara membaca yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan, jika dilihat dari tata desain isinya, metode Baghdadiyah ini memiliki desain yang menarik dan berwarna sehingga akan membuat siswa yang memiliki kecerdasan spasial tinggi akan merasa enjoy ketika belajar. Dengan demikian akan mempercepat kelancaran dalam membaca al Qur’an. Hal ini juga didukung pada pola bunyi dan susunan huruf yang disusun secara rapi. 

Disamping itu, metode Baghdadiyah juga menuntut untuk member variasi dari tiap langkah sehingga menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak didengar), karena bunyinya bersajak berirama. Tentunya, hal ini akan dapat memancing siswa untuk mengoptimalkan kecerdasan musical yang dimiliki.

 

G.        Analisis Metode Al Barqy dalam Perspektif Multiple Intelligences

Metode al Barqy dikenal sebagai metode cepat dalam membaca al Qur’an yang paling awal. Metode ini disebut juga metode ANTI LUPA, karena mempunyai struktur yang apabila siswa lupa dengan suku kata yang dipelajari, maka akan dengan mudah dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru. Berikut beberapa keunikan metode al Barqy, antara lain:

  1. Menggunkan system 8 jam, artinya hanya dalam waktu 8 jam, murid dapat membaca dan menulis huruf al Qur’an.
  2. Menggunakan SAS yang memudahkan murid belajar al Qur’an
  3. Memperhatikan pendekatan, sistematika dan teknik dalam pembelajaran
  4. Bukunya dilengkapi dengan teknik imla’ yang praktis, dan teknik menulis khat, dilengkapi buku latihan menulis huruf al Qur’an (LKS)
  5. Sangat cepat jika dipakai klasikal, bahkan massal; dan
  6. Tidak membosankan karena ada teknik-teknik yang akurat dan menarik seperti permainan, menyanyi dan lain-lain.

Secara lebih jelas, pembelajarn BTA dengan metode al Barqy jika dikaji dalam perspektif multiple intelligences dapat dirumuskan sebagai berikut:

 

Tabel. 3 Unsur Multiple Intelligences dalam Metode Al Barqy

No

Unsur Kegiatan

Bentuk Kegiatan

Kecerdasan

1

Sistem Pembelajaran

Klasikal dan Privat

Interpersonal, Intrapersonal

2

Metode Pembelajaran

Menggunakan sistem 8 jam, artinya hanya dengan 8 jam murid dapat membaca dan menulis huruf al Qur’an

Matematis, Linguistik

Menggunakan SAS (Struktur

Analitik Sintetik) yang memudahkan murid belajar al Qur’an

Matematis

Bukunya dilengkapi teknik imla’ yang praktis dan teknik menulis khat, dilengkapi buku latihan menulis huruf al Qur’an

Linguistik, Spasial

Sangat cepat jika dipakai klasikal, bahkan missal

Interpersonal

Tidak membosankan, karena ada teknik-teknik yang akurat dan menarik

Musikal, Kinestetik

 

Dalam metode al Barqy, system pembelajaran al Qur’an yang diterapkan menggunakan pendekatan klasikal dan privat, sehingga mendukung perkembangan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal yang dimiliki setiap individu siswa. Siswa yang memiliki kecenderungan pada dua kecerdasan iniakan menjadi dalam pembelajarannya. Dengan kata lain, ketika guru menerapkan pembelajaran model klasikal, maka siswa yang dominan di bidang kecerdasan interpersonal menjadi lebih senang ketika pembelajaran berlangsung. Begitu sebaliknya, ketika guru menerapkan model pembelajaran privat, maka akan memberikan peluang kepada siswa yang memiliki kecerdasan intrapersonal untuk menikmati belajarnya. Seorang guru dituntut untuk mengkombinasikan kedua bentuk pembelajaran tersebut, klasikal dan privat. Namun, sebenarnya metode al Barqy ini sangat tepat dan cepat jika dipakai secara klasikal, bahkan missal. Tentu hal ini akan lebih menguntungkan bagi siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal lebih dominan.

Disamping itu, dalam metode al Barqy ini juga akan mengakomodir siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan linguistic dan matematik. Dalam system pembelajarannya, metode al Barqy menggunakan system 8 jam, artinya hanya dengan waktu 8 jam murid dapat membaca menulis huruf al Qur’an, yang berarti memberikan ruang bagi siswa dengan kecerdasan lingistik dan matematis untuk dapat berkembang secara cepat. Selain itu, metode al Barqy juga menggunakan SAS (Struktur Analitik Sintetik) yang memudahkan murid belajar. Sementara yang kecenderungannya di bidang kecerdasan spasial, juga diharapkan dapat belajar baca tulis al Qur’an secara utuh. Karena, metode ini memiliki buku yang dilengkapi teknik imla” yang praktis dan teknik menulis khat, dan dilengkapi buku latihan menulis huruf al Qur’an (LKS).

Dalam pembelajaran metode al Barqy juga mengakomodir siswa kecerdasan musical dan kinestetik. Seorang guru dituntut untuk mampu mengajar siswa dengan teknik yang tidak membosankan, seperti diselingi dengan menyanyi dan permainan. Apabila teknik benar-benar dilaksanakan oleh guru, maka siswa yang kecerdasannya di bidang musical dan kinestetik tentu akan lebih enjoy untuk mengikuti dalam proses pembelajaran.

 

  1. Penutup

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disampulkan sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan pembelajaran al Qur’an jika ditinjau dari perspektif multiple intelligences, maka dapat diketahui bahwa kecerdasan yang sudah diinternalisasikan ke dalam setiap metode pembelajaran al Qur’an adalah kecerdasan linguistic, matematis, interpersonal dan kcerdasan intrapersonal. Sedangkan, untuk kecerdasan musical dan spasial hanya terdapat dalam metode Baghdadiyah dan al Barqy. Dan untuk kecerdasan kinestetik hanya digunakan metode al Barqy. Adapun untuk kecerdasan naturalis belum diakomodir dalam metode apapun dalam pembelajaran al Qur’an.
  2. Berdasarkan ketiga metode pembelajaran al Qur’an yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu metode Baghdadiyah, Qira’ati dan al Barqy, maka dapat diketahui bahwa metode Baghdadiyah merupakan metode yang sudah menerapkan system dan metode pembelajaran al Qur’an berbasis  multiple intelligences, kecuali kecerdasan naturalis. Untuk metode al Barqy, masih terdapat dua kecerdasan yang belum diakomodir yakni kecerdasan kinestetik dan naturalis. Sedangkan untuk metode Qira’ati, hanya menerapkan empat kecerdasan dalam pembelajaran, yaitu kecerdasan linguistic, matematis, spasial dan kecerdasan musical.

 

  1. Daftar Pustaka

Armstrong, Thomas. (1991). Multiple Intellegences in The Classroom. USA: ASCD

Deporter, Bobbi; Mark Reardon; & Sarah Singer Nourie. (1999). Quantun Teaching: Orcestrating Student Succes. Terjemah oleh Ary Nilandari. (2007). (Quantun Teaching: Memperaktekkan Quantum Learning di Ruang Kelas). Bandung: Kaifa.

Faizah, Umdzatul. (2006). Pembelajaran Membaca Al Qur’an dengan Metode Qira’ati pada Anak Pra sekolah di TK Islam Hidayatullah Semarang. Laporan Penelitian. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

Gardner, Howard. (2003), Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) Teori dalam Praktik. Terjemahan Alexander Sindoro. Batam: Interaksara

Humam, As’ad dkk, (1990). Buku Iqra’, Cara Cepat Belajar Membaca al Qur’an , Jilid 1-6, Yogyakarta: Tim Tadarrus AMM.

Jasmine, Julia. (2001). Profesional’s Guide: Teaching With Multiple Intelligences. Terjemahan oleh Purwanto. (2007). Panduan Mengajar Berbasis Multiple Intelligences. Bandung: Nuansa.

Khusairi. Metode Tarkibiyah dan Tahliliyah dalam Pembelajaran BTA. dalam Nur Zainab Noer & M Ishaq Maulana (ed). Membina Tunas Bangsa melalui Pendidikan al Qur’an. Surabaya: Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Muslimat NU (YPKMNU) Jawa Timur.

Komari. (2008). Metode Pengajaran Baca Tulis al-Quran. Kertas kerja disampaikan pada pelatihan Nasional guru dan pengelola TPSA. Makasar.

Mardiyo. (1999). Pengajaran al Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Musfiroh, Tadzkirotun. (2008). Cara Cerdas Belajar sambil Bermain. Bandung: PT Grasindo.

Murtanto, Yudhi. (2002). Sekolah para Juara. Bandung: Penerbit Kaifa

Oka, I Gusti Ngurah. (1983). Pengantar Membaca dan Pengajarannya. Surabaya: Usaha Nasional.

Sudarso. (1993). Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia.

Sugiyanto. (2009). Problematika Pembelajaran BTA dan Solusinya pada Kelas Permulaan SMP Islam Terpadu Darul Fikr Bawen Kabupaten Semarang. Laporan Penelitian. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang.

 

 

 

Fenomena yang terjadi di masyarakat kita, terutama di rumah-rumah  keluarga muslim  semakin sepi dari  bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an. Hal ini disebabkan karena terdesak dengan munculnya berbagai produk sain dan tehnologi serta derasnya arus budaya  asing yang semakin menggeser minat untuk belajar membaca Al Qur'an sehingga  banyak anggota keluarga tidak  bisa membaca Al Qur'an. Akhirnya kebiasaan membaca Al Qur'an ini sudah mulai langka. Yang ada adalah suara-suara radio, TV, Tape recorder, karaoke, dan lain-lain. 

Keadaan seperti ini adalah keadaan yang sangat memprihatinkan. Belum lagi masalah akhlak, akidah dan pelaksanaan ibadahnya, yang semakin hari semakin jauh dari tuntunan Rasululloh  . Maka sangat diperlukan kerjasama dari semua fihak untuk mengatasinya. Yaitu mengembalikan kebiasaan membaca Al Qur'an di rumah-rumah kaum muslimin dan membekali kaum muslimin dengan nilai-nilai Islam, sehingga bisa hidup secara Islami demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pada dekade belakangan ini telah banyak metode pengajaran baca tulis Al-Qur'an dikembangkan, begitu juga buku-buku panduannya telah banyak disusun dan dicetak. Para pengajar baca tulis Al-Qur'an tinggal memilih metode yang paling cocok baginya, paling efektif dan paling murah.

Dunia pendidikan mengakui bahwa suatu metode pengajaran senantiasa memiliki kekuatan dan kelemahan. Keberhasilan suatu metode pengajaran sangat ditentukan oleh beberapa hal, yaitu :

  1. Kemampuan guru.
  2. Siswa
  3. Lingkungan.
  4. Materi pelajaran.
  5. Alat pelajaran.
  6. Tujuan yang hendak dicapai.

Dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur'an  harus menggunakan metode. Dengan menggunakan metode yang tepat akan menjamin tercapainya tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dan merata bagi siswa.[1]

 

B.         Metode-metode baca tulis Al-Qur'an di Indonesia.

 

Metode-metode pembelajaran baca tulis Al-Qur'an telah banyak berkembang di Indonesia sejak lama. Tiap-tiap metode dikembangkan berdasarkan karakteristiknya.

1. Metode Baghdadiyah.

Metode ini disebut juga dengan metode “ Eja “, berasal dari Baghdad masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Tidak tahu dengan pasti siapa penyusunnya. Dan telah seabad lebih berkembang secara merata di tanah air. 

Secara dikdatik, materi-materinya diurutkan dari yang kongkrit ke abstrak, dari yang mudah ke yang sukar, dan dari yang umum sifatnya kepada materi yang terinci ( khusus ). Secara garis besar, Qoidah Baghdadiyah memerlukan 17 langkah. 30 huruf hijaiyyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolah-olah sejumlah tersebut menjadi tema central dengan berbagai variasi. Variasi dari tiap langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak didengar ) karena bunyinya bersajak berirama. Indah dilihat karena penulisan huruf yang sama. Metode ini diajarkan secara klasikal maupun privat.

Beberapa kelebihan Qoidah Baghdadiyah antara lain : 

  1. Bahan/materi pelajaran disusun secara sekuensif.
  2. 30 huruf abjad hampir selalu ditampilkan pada setiap langkah secara utuh sebagai tema sentral.
  3. Pola bunyi dan susunan huruf (wazan) disusun secara rapi.
  4. Ketrampilan mengeja yang dikembangkan merupakan daya tarik tersendiri.
  5. Materi tajwid secara mendasar terintegrasi dalam setiap langkah.

Beberapa kekurangan Qoidah baghdadiyah antara lain :

  1. Qoidah Baghdadiyah yang asli sulit diketahui, karena sudah mengalami beberapa modifikasi kecil.
  2. Penyajian materi terkesan menjemukan.
  3. Penampilan beberapa huruf yang mirip dapat menyulitkan pengalaman siswa.
  4. Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca Al-Qur'an 
    1. Metode Iqro’.

Metode Iqro’ disusun oleh Bapak As'ad Humam dari Kotagede Yogyakarta dan dikembangkan oleh AMM ( Angkatan Muda Masjid dan Musholla ) Yogyakarta dengan membuka TK Al-Qur'an dan TP Al-Qur'an.  Metode Iqro’ semakin berkembang dan menyebar merata di Indonesia setelah munas DPP BKPMI di Surabaya yang menjadikan TK Al-Qur'an dan metode Iqro’ sebagai sebagai program utama perjuangannya.

 Metode Iqro’ terdiri dari 6 jilid dengan variasi warna cover yang memikat perhatian anak TK Al-Qur'an. 10 sifat buku Iqro’ adalah :

  1. Bacaan langsung.       f           Praktis
  2. CBSA g Disusun secara lengkap dan semprna
  3. Privat h Variatif
  4. Modul             i           Komunikatif
  5. Asistensi         j           Fleksibel           

Bentuk-bentuk pengajaran dengan metode Iqro’ antara lain : 

  1. TK Al-Qur'an 
  2. TP Al-Qur'an
  3. Digunakan pada pengajian anak-anak di masjid/musholla
  4. Menjadi materi dalam kursus baca tulis Al-Qur'an
  5. Menjadi program ekstra kurikuler sekolah
  6. Digunakan di majelis-majelis taklim

 

  1. Metode Qiro’ati

Metode baca al-Qu ran Qira'ati ditemukan KH. Dachlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari Semarang, Jawa Tengah. Metode yang disebarkan sejak awal 1970-an, ini memungkinkan anakanak mempelajari al-Qur'an secara cepat dan mudah..

Kiai Dachlan yang mulai mengajar al-Qur'an pada 1963, merasa metode baca al-Qur'an yang ada belum memadai. Misalnya metode Qa'idah Baghdadiyah dari Baghdad Irak, yang dianggap metode tertua, terlalu mengandalkan hafalan dan tidak mengenalkan cara baca tartil (jelas dan tepat, red.)

 Kiai Dachlan kemudian menerbitkan enam jilid buku Pelajaran Membaca al-Qur'an untuk TK al-Qur'an untuk anak usia 4-6 tahun pada l Juli 1986. Usai merampungkan penyusunannya, KH. Dachlan berwasiat, supaya tidak sembarang orang mengajarkan metode Qira'ati. Tapi semua orang boleh diajar dengan metode Qira'ati. 

Dalam perkembangannya, sasaran metode Qiraati kian diperluas. Kini ada Qiraati untuk anak usia 4-6 tahun, untuk 6-12 tahun, dan untuk mahasiswa. Secara umum metode pengajaran Qiro’ati adalah :

  1. Klasikal dan privat
  2. Guru menjelaskan dengan memberi contoh materi pokok bahasan, selanjutnya siswa membaca sendiri ( CBSA) 
  3. Siswa membaca tanpa mengeja.
  4. Sejak awal belajar, siswa ditekankan untuk membaca dengan tepat dan cepat.

 

4. Metode Al Barqy

Metode al-Barqy dapat dinilai sebagai metode cepat membaca al-Qur'an yang paling awal. Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Muhadjir Sulthon pada 1965. Awalnya, al-Barqy diperuntukkan bagi siswa SD Islam at-Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar metode ini lebih cepat mampu membaca al-Qur'an. Muhadjir lantas membukukan metodenya pada 1978, dengan judul Cara Cepat Mempelajari Bacaan al-Qur'an alBarqy.

MUHADJIR SULTHON MANAJEMEN (MSM) merupakan lembaga yang didirikan untuk membantu program pemerintah dalam hal pemberantasan buta Baca Tulis Al Qur’an dan Membaca Huruf Latin. Berpusat di Surabaya, dan telah mempunyai cabang di beberapa kota besar di Indonesia, Singapura & Malaysia.

 Metode ini disebut ANTI LUPA karena mempunyai struktur yang apabila pada saat siswa lupa dengan huruf-huruf / suku  kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan mudah dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru. Penyebutan Anti Lupa itu sendiri adalah dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Agama RI.  

Metode ini diperuntukkan bagi siapa saja mulai anak-anak hingga orang dewasa. Metode ini mempunyai keunggulan anak tidak akan lupa sehingga secara langsung dapat MEMPERMUDAH dan MEMPERCEPAT anak / siswa  belajar membaca. Waktu untuk belajar membaca Al Qur’an menjadi semakin singkat.  

Keuntungan yang di dapat dengan menggunakan metode ini adalah : a Bagi guru ( guru mempunyai keahlian tambahan sehingga dapat mengajar dengan lebih baik, bisa menambah penghasilan di waktu luang dengan keahlian yang dipelajari), 

  1. Bagi Murid ( Murid merasa cepat belajar sehingga tidak merasa bosan dan menambah kepercayaan dirinya karena sudah bisa belajar dan mengusainya dalam waktu singkat, hanya satu level sehingga biayanya lebih murah),
  2. Bagi Sekolah (sekolah menjadi lebih terkenal karena murid-muridnya mempunyai kemampuan untuk menguasai pelajaran lebih cepat dibandingkan dengan sekolah lain).

 

 

5. Metode Tilawati.

Metode pembelajaran masih belum menciptakan suasana  belajar yang kondusif. Sehingga proses belajar tidak efektif.

 

Kualitas santri lulusan TK/TP Al Qur’an belum sesuai dengan target.

Metode Tilawati disusun pada tahun 2002 oleh Tim terdiri dari Drs.H. Hasan Sadzili, Drs H. Ali Muaffa dkk. Kemudian dikembangkan oleh Pesantren Virtual Nurul Falah Surabaya. Metode Tilawati dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang berkembang di TK-TPA, antara lain : 

 

Mutu Pendidikan

Metode Pembelajaran

Pendanaan

Waktu pendidikan

Kelas TQA Pasca TPA           TQA belum bisa terlaksana.

Waktu pendidikan masih terlalu lama sehingga banyak santri drop out sebelum khatam Al-Qur'an.

 

Tidak adanya keseimbangan keuangan antara pemasukan  dan pengeluaran.

             Metode Tilawati memberikan jaminan kualitas bagi santri-santrinya, antara lain :  a. Santri mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil.

  1. Santri mampu membenarkan bacaan Al-Qur'an yang salah.
  2. Ketuntasan belajar santri secara individu 70 % dan  secara kelompok 80%.

Prinsip-prinsip pembelajaran  Tilawati :

  1. Disampaikan dengan praktis. `
  2. Menggunakan lagu Rost.
  3. Menggunakan pendekatan klasikal dan individu secara seimbang.

 

  1. Metode Iqro’ Dewasa
  2. Metode Iqro’ Terpadu 

Kedua metode ini disusun oleh Drs. Tasrifin Karim dari Kalimantan Selatan. Iqro’ terpadu merupakan penyempurnaan dari Iqro’ Dewasa.  Kelebihan Iqro’ Terpadu dibandingkan dengan Iqro’ Dewasa antara lain bahwa  Iqro’ Dewasa dengan pola 20 kali pertemuan sedangkan Iqro’ Terpadu hanya 10 kali pertemuan dan dilengkapi dengan latihan membaca dan menulis.

Kedua metode ini diperuntukkan bagi orang dewasa. 

Prinsip-prinsip pengajarannya seperti yang dikembangkan pada TK-TP Al-Qur'an.

 

  1. Metode Iqro’ Klasikal

Metode ini dikembangkan oleh Tim Tadarrus AMM Yogyakarta sebagai pemampatan dari buku Iqro’ 6 jilid. Iqro’ Klasikal diperuntukkan bagi siswa SD/MI, yang diajarkan secara klasikal dan mengacu pada kurikulum sekolah formal.

 

  1. Dirosa ( Dirasah Orang Dewasa )

Dirosa merupakan sistem pembinaan islam berkelanjutan yang diawali dengan belajar baca Al-Qur’an. Panduan Baca Al-Qur’an pada Dirosa disusun tahun 2006 yang dikembangkan Wahdah Islamiyah Gowa. Panduan ini khusus orang dewasa dengan sistem klasikal 20 kali pertemuan.

Buku panduan ini lahir dari sebuah proses yang panjang, dari sebuah perjalanan pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu yang dialami sendiri oleh Pencetus dan Penulis buku ini. Telah terjadi proses pencarian format yang terbaik  pada pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu selama kurang lebih 15 tahun dengan berganti-ganti metode. Dan akhirnya ditemukanlah satu format yang sementara dianggap paling ideal, paling baik dan efektif yaitu memadukan pembelajaran baca Al-Qur'an dengan pengenalan dasar-dasar keislaman. Buku panduan belajar baca Al-Qur'annya disusun tahun 2006. Sedangkan buku-buku penunjangnya juga yang dipakai pada santri TK-TP Al-Qur'an.

Panduan Dirosa sudah mulai berkembang di daerah-daerah, baik Sulawesi, Kalimantan maupun beberapa daerah kepulauan Maluku; yang dibawa oleh para da,i .

Secara garis besar metode pengajarannya adalah Baca-Tunjuk-Simak-Ulang, yaitu pembina membacakan, peserta menunjuk tulisan, mendengarkan  dengan seksama kemudian mengulangi bacaan tadi. Tehnik ini dilakukan bukan hanya bagi bacaan pembina, tetapi juga bacaan dari sesama peserta. Semakin banyak mendengar dan mengulang, semakin besar kemungkinan untuk bisa baca Al-Qur'an lebih cepat.

 

 

10. PQOD ( Pendidikan Qur’an Orang Dewasa )

Dikembangkan oleh Bagian dakwah LM DPP WI, yang hingga saat ini belum diekspos keluar. Diajarkan di kalangan anggota Majlis Taklim dan satu paket dengan kursus Tartil AlQur'an .

 

  1. Pembahasan efektivitas metode baca tulis Al-Qur'an.

Seorang pengajar baca tulis Al-Qur'an , tidak serta merta mengadopsi metode yang baru dikenalnya, apalagi jika hanya mendapatkan informasi saja tentang metode tersebut . Para Pembina harus melakukan kajian yang mendalam, sebelum menetapkan metode apa yang akan dipakai dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur'an kepada santri.

Beberapa pertimbangan dalam pemilihan metode pengajaran antara lain : 

  1. Mudah dan murahnya mendapatkan pelatihan-pelatihan bagi para pembina.
  2. Mudah dikuasai oleh mayoritas Ustadz/ah
  3. Mudah dan murah mendapatkan buku panduan 4. Mudah dan sederhana pengelolaan pengajarannya.

Jika beberapa metode lolos pertimbangan di atas, maka ditentukan pemilihan berdasarkan skala prioritas.

 

  1. Kesimpulan.

 

 


[1] Metode-metode mengajar Al-Qur'an di sekolah-sekolah Umum, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam 1994/1995 h. 64-65


Komentar