pedoman-penyusunan-kurikulum-stai-nurul-hidayah-malingping-
http://dikti.go.id

PEDOMAN PENYUSUNAN KURIKULUM STAI NURUL HIDAYAH MALINGPING



 

PEDOMAN  PENYUSUNAN KURIKULUM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NURUL HIDAYAH MALINGPING-LEBAK

 

 

  1. Latar Belakang

 

Proses pembelajaran yang baik memiliki unsur yang baik dalam beberapa hal, yaitu:

(1) Organisasi Perguruan Tinggi (PT) yang sehat; (2) Pengelolaan PT yang transparan dan

akuntabel; (3) Ketersediaan Rancangan Pembelajaran PT dalam bentuk dokumen kurikulum yang jelas dan sesuai kebutuhan pasar kerja; (4) Kemampuan dan Ketrampilan SDM akademik dan non akademik yang handal dan profesional; (5) Ketersediaan sarana-prasarana dan fasilitas belajar yang memadai. Dengan memiliki kelima unsur pembelajaran tersebut, PT akan dapat mengembangkan iklim akademik yang sehat, serta mengarah pada ketercapaian masyarakat akademik yang profesional.

 

Adanya perubahan yang sedemikian pesat dalam masyarakat global, menyebabkan

sistem pendidikan tinggi juga harus berubah sesuai dengan tuntutan tersebut, termasuk

perubahan terhadap kurikulum yang disusunnya. Pada beberapa dekade lalu proses

penyusunan kurikulum disusun berdasarkan tradisi 5 tahun (jenjang S1) atau 3 tahun (jenjang D3) yang selalu menandai dengan berakhirnya tugas satu perangkat kurikulum. Selain itu, disebabkan pula oleh rencana strategis PT yang memuat visi dan misi PT juga telah berubah. Sebagian besar alasan perubahan kurikulum berasal dari permasalahan internal PT sendiri, hal ini bukan suatu kesalahan. Namun jika dipahami dengan lebih dalam berdasarkan sistem pendidikan yang telah dijelaskan di atas, maka jika terjadi perubahan pada tuntutan dunia kerja sudah sewajarnyalah proses di dalam PT juga perlu untuk beradaptasi. Alasan inilah yang menjadi pertimbangan Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Hidayah Malingping – kabupaten Lebak, Propinsi Banten,  untuk menyusun  kurikulum pada semua program studi, bukan lagi berbasis isi tetapi berbasis kompetensi atau kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Karena pada saat program studi mengembangkan tujuan pembelajaran sebagai titik akhir proses yang dilakukan berdasarkan pada isi, maka program studi tersebut akan demikian mudah tertinggal oleh pasar kerja. Hal inilah yang semakin meregangkan dan memperpanjang jarak antara penyedia sumber daya manusia (SDM) dengan pasar kerja yang memerlukan SDM, namun jika program studi tersebut menetapkan hasil akhir lulusannya dalam hal kompetensi (kemampuan) untuk dapat mencari, menyusun, membuat dan mengembangkan IPTEKS baru, maka lulusannya akan dapat terus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di pasar kerja.

 

  1. Pihak yang Terlibat dalam Penyusunan Kurikulum

Proses penyusunan kurikulum yang semula disusun dan ditetapkan oleh perguruan

tinggi (PT) yang bersangkutan, pada KBK diganti dengan kurikulum yang disusun oleh

perguruan tinggi bersama-sama dengan pemangku kepentingan, dan ditetapkan oleh

perguruan tinggi (PT) yang bersangkutan. Sehingga pihak yang  terlibat dalam proses

penyusunan Kurikulum di Sekolah Tinggi agama Islam  Nurul Hidayah Banten ( STAINH) adalah:

  1. Unsur Yayasan Nurul Hidayah
  2. Semua dosen pada program studi yang bersangkutan
  3. Pimpinan Perguruan Tinggi
  4. Pengguna lulusan
  5. Pengguna Lulusan

 

  1. Cara Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Tujuan akhir penyusunan kurikulum adalah tercapainya kompetensi lulusan yang akhirnya sesuai atau mendekati kebutuhan kompetensi di pasar kerja. Penyusunan kurikulum  bukan meninggalkan logika keilmuan program studi, namun lebih menekankan bahwa logika keilmuan bukan dijadikan sebagai suatu tujuan pendidikan.

Cara penyusunan kurikulum di STAINH dengan tahapan sebagai berikut:

 

  1. Penyusunan profil lulusan, yaitu peran dan fungsi yang dapat dijalankan oleh lulusan di pasar kerja,
  2. Penetapan kompetensi lulusan berdasarkan profil lulusan yang telah ada beserta elemen kompetensi,
  3. Penetapan bahan kajian yang akan digunakan untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan,
  4. Pembentukan mata kuliah (berdasarkan hubungan antara kompetensi dengan bahan kajian) dan penetapan besarnya satuan kredit semester (SKS) berdasarkan  kajian yang dilakukan dengan menganalisis hubungan dari kompetensi dan kajian yang diperlukan,
  5. Penyusunan struktur kurikulum dengan cara mendistribusikan mata kuliah tersebut dalam semester dengan sajian per semester maksimal 24,
  6. Pengembangan rancangan pembelajaran termasuk proses asesmen dan penilaiannya,

Secara rinci proses penyusunan kurikulum di STAI Nurul Hidayah seperti penjabaran dibawah ini :

 

  1.  PENYUSUNAN PROFIL LULUSAN

Profil adalah peran yang dapat dilakukan oleh lulusan program studi setelah memasuki pasar kerja dan atau di masyarakat. Profil ini merupakan outcome pendidikan yang akan dituju. Dengan menetapkan profil, perguruan tinggi dapat memberikan jaminan pada calon mahasiswanya tentang apa yang diperoleh setelah melakukan semua proses pembelajaran di program studinya. Dengan demikian profil dapat menjadi tolok ukur keberhasilan dari suatu proses pembelajaran dalam mencoba melakukan proses penjaminan mutu akademik. Untuk menetapkan profil lulusan, dapat dimulai dengan menjawab pertanyaan: “Setelah lulus nanti, akan jadi apa sajakah lulusan program studi

saya?”.

 

  1. PENETAPAN KOMPETENSI LULUSAN DAN ELEMEN KOMPETENSI

Setelah menetapkan profil lulusan sebagai outcome pembelajaran program studi, maka langkah selanjutnya adalah menentukan kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh lulusan program studi sebagai output pembelajarannya. Kompetensi tersebut diturunkan dari profil dengan memperhatikan tiga unsur sebagai berikut:

 

a) Program studi (kesepakatan program studi sejenis): scientivic vision

b) Kebutuhan stakeholders dan alumni: market signal

c) Universitas: university values

 

Untuk menetapkan kompetensi lulusan, dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan:n “Untuk menjadi profil ……. lulusan harus mampu melakukan apa saja?”. Pertanyaan ini diulang untuk setiap profil, sehingga diperoleh daftar kompetensi lulusan dengan lengkap. Setelah selesai, baru kemudian setiap kompetensi tersebut dikelompokkan ke dalam:

 

  1. Kompetensi Utama sebagai penciri program studi, ditetapkan oleh kalangan perguruan tinggi, masyarakat profesi dan pengguna lulusan dengan kisaran 40– 80% dari keseluruhan kompetensi yang ada.
  2. Kompetensi Khusus yang merupakan penggabungan kompetensi pendukung dan lainnya sebagai penciri lembaga dan institusi sesuai visi dan misinya.
  3. Kompetensi pendukung adalah kompetensi lulusan yang masih berhubungan dengan program studi yang bersangkutan namun tidak wajib diberikan pada lulusannya. Kisaran kompetensi pendukung adalah 20 – 40% dari keseluruhan kompetensi yang ada. Kompetensi lain adalah jenis kompetensi lulusan yang berasal dari program studi lain, namun diambil untuk memperkaya lulusan dengan kisaran 0 – 20% dari keseluruhan kompetensi yang ada.

 

Untuk mempermudah penyusunan dapat digunakan Matriks Profil dan Kompetensi

lulusan seperti tertera pada Tabel 1.

 

 

PROFIL LULUSAN

KLASIFIKASI KOMPETENSI

KOMPETENSI

UTAMA

(CIRI PROGRAM STUDI )

KOMPETENSI KHUSUS

( CIRI LEMBAGA)

KOMPETENSI PENDUKUNG

KOMPETENSI LAINYA

1

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

 

 

Selain Kompetensi Utama dan Khusus, terdapat satu kompetensi lain, yaitu

Kompetensi umum sebagai penciri nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah yang terdiri dari 5 mata kuliah wajib untuk D3 dan S1:

(1) Pendidikan Agama,

 (2) Pendidikan Kewarganegaraan,

 (3) Bahasa Indonesia,

(4) Bahasa Inggris/Bahasa Asing dan

 (5) Matematika/Statistika/Logika

(masing-masing dengan beban minimal 2 SKS) dan 2 mata

Setelah semua kompetensi lulusan terisi, langkah selanjutnya adalah menjalankan amanah SK Mendiknas No.045/U/2002 yang mewajibkan setiap program studi penyelenggara pendidikan untuk menjamin kurikulumnya mengandung 5 elemen kompetensi. Kelima elemen kompetensi tersebut adalah:

  1. landasan kepribadian
  2. penguasaan ilmu dan keterampilan
  3. kemampuan berkarya
  4. sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai
  5. pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.

 

Setiap kompetensi kemudian harus dianalisis mengandung salah satu atau lebih dari bagian elemen kompetensi tersebut di atas. Untuk menganalisis kandungan elemen kompetensi yang ada dilakukan dengan cara mengecek kemungkinan strategi pembelajaran kompetensi yang telah ditetapkan, sebagai berikut :

  1. Jika kompetensi bermuatan soft skills, boleh jadi tidak diajarkan sebagai topic bahasan, namun diselipkan dalam bentuk hidden curriculum. Untuk ini, kompetensi tersebut mengandung elemen (a) landasan kepribadian.
  2. Jika kompetensi tersebut akan diajarkan dalam bentuk topik bahasan dalam mata kuliah, maka mengandung elemen (b) penguasaan ilmu dan ketrampilan.
  3. Jika kompetensi tersebut harus ditempuh dengan praktek kerja tertentu, maka kompetensi tersebut mengandung elemen (c) kemampuan berkarya.
  4. Jika pembelajarannya diberikan dalam bentuk praktek kerja dengan tujuan agar mahasiswa mempu meningkatkan, sikap dan perilaku, maka kompetensi tersebut mengandung elemen (d) sikap dan perilaku dalam berkarya.
  5. Jika pembelajarannya diberikan dalam bentuk praktek kerja di masyarakat, maka kompetensi tersebut mengandung elemen (e) pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat.

 

 

 

 

 

Agar lebih mudah, dalam menganalisis elemen kompetensi ini dapat digunakan

matriks yang ada pada Tabel 2.

 

 

 

KELOMPOK KOMPETENSI

 

RUMUSAN KOMPETENSI

ELEMEN KOMPETENSI

A

B

C

D

E

 

UTAMA

1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

 

PENDUKUNG

1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

 

LAINNYA

1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

Keterangan: * Beri tanda X pada kolom yang sesuai

a = landasan pengembangan kepribadian; (MPK)

b = penguasaan ilmu dan keterampilan; (MKK)

c = kemampuan berkarya; (MKB)

 d = sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai; (MPB )

 e = pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya. ( MBB )

 

 

  1. PENETAPAN BAHAN KAJIAN

Setelah menganalisis elemen kompetensi maka langkah selanjutnya adalah menentukan bahan kajian yang akan digunakan untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahan kajian adalah suatu bangunan ilmu, teknologi ataupun seni yang menunjukkan ciri dari cabang ilmu tertentu, atau dengan kata lain menunjukkan bidang kajian suatu program studi. Bahan kajian dapat pula merupakan pengetahuan/bidang kajian yang akan dikembangkan untuk mencapai kompetensi lulusan.

Pilihan bahan kajian ini sangat dipengaruhi oleh visi keilmuan program studi yang bersangkutan, yang biasanya dapat diambil dari program pengembangan program studi (misalnya diambil dari pohon keilmuan program studi). Bahan kajian bukan merupakan mata kuliah. Untuk menetapkan bahan kajian yang akan dipelajari perlu disusun lebih dahulu peta keilmuan program studi.

Penetapan bahan kajian yang akan digunakan untuk mencapai kompetensi bias salah satu atau gabungan dari ketiga hal berikut ini:

 

  1. Bahan kajian yang ditetapkan oleh program studi diambil dari peta keilmuan (IPTEKS) yang menjadi ciri program studi atau dari khasanah IPTEKS yang akan dibangun oleh program studi sendiri.
  2. Bahan kajian ditambah bidang/cabang ilmu yang dianggap diperlukan bagi lulusan untuk mengantisipasi pengembangan ilmu di masa depan.
  3. Bahan kajian bisa juga dipilih berdasarkan analisis kebutuhan dunia kerja/profesi yang akan diterjuni oleh lulusan di masa datang.

 

Contoh bahan kajian yang sering ditemui misalnya pada bidang Agroteknologi adalah (1) Ilmu Tanaman; (2) Media Tanam; (3) Teknologi Tanaman; (4) Lingkungan

dll. Contoh lain adalah pada Program Studi Psikologi (1) Psikologi dasar (Umum dan

Eksperimen); (2) Psikologi

 

 

 

 


Komentar